Islamic Studies from a Sociological Approach: A Study of Muslim and Non-Muslim Interactions

Authors

  • Mohamad Kholil Fakultas Agama Islam, Universitas Darul Ma’arif, Indramayu, Indonesia
  • Rifqi Mustofa Fakultas Agama Islam, Universitas Darul Ma’arif, Indramayu, Indonesia
  • Fasjud Syukroni Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.61166/lpi.v2i2.182

Keywords:

Studi Islam, Pendekatan Sosiologis, Interaksi Muslim Non Muslim

Abstract

Beragama adalah pilihan individual yang fitrah, merupakan hak privasi setiap individu yang total dan utuh. Maka pluralitas agama harus pula diakui keberadaannya secara utuh. Pluralitas agama merupakan realitas yang patut diterima sebagai wujud dari anugerah Tuhan. Pilihan untuk beragama adalah pilihan individual atas getaran suara hati nurani, bukan paksaan, desakan, atau anjuran siapapun, selain kesadarannya sebagai manusia yang memaksa manusia untuk memilih agama. Karena itu, beragama merupakan hak yang sangat asasi pada setiap manusia, yang tidak dapat diintervensi oleh siapapun. Tidak dibenarkan untuk saling mengganggu atau melecehkan antar sesama umat beragama maupun dengan umat agama lain. Untuk merajut kembali hubungan antar agama yang sekian tahun ternodai, maka perlu upaya pembaruan fiqh. Ada 3 (tiga) level yang mesti dilakukan dalam pembaruan fiqh, yaitu: Pertama, pembaruan pada level “metodologis”, yaitu perlunya interpretasi tehadap teks-teks fiqh secara kontekstual, bermazhab secara metodologis, dan verifikasi antara ajaran yang pokok dan cabang; Kedua, pembaruan pada level “etis”, yaitu pembaruan fiqh yang dapat menghadirkan fiqh sebagai etika sosial dimana fiqh tidak hanya sekedar membahas hukum halal-haram, melainkan membahas panca jiwa fiqh, yaitu melindungi agama, akal, jiwa, harta, dan keturunan, yang semangatnya memberikan perhatian bagi segenap manusia, apapun agama, ras dan sukunya; Ketiga, pembaruan pada level “filosofis” yaitu fiqh yang terbuka terhadap filsafat dan teori-teori sosial kontemporer, sehingga fiqh tidak hadir sebagai konsep yang menampikkan konsep lain melainkan dapat memberikan ruh terhadap teori-teori modern.

References

Abuddin Nata, Peta Keragaman Pemikiran Islam Di Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001).

Abu Ishaq Al-Syathibi dalam Al-Muwafaqat fi Ushul Al-syari’ah (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah).

A. Syafi’i Ma’arif, Islam Kekuatan Doktrin dan Kegamangan Umat (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 1997).

Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Al-Huda, 2005).

M. Abid Al-Jabiry, Takwin Al-‘Aql Al-‘Araby (Beirut: Markaz Dirasat Al-Wihdati Al-‘Arabiyah, 1994), Cet. ke-VI.

Musa Syahin Lasyin, Fath Al-Mun’im: Syarh Shahih Muslim, Bagian Pertama (Kairo: Maktabat Al-Jami’ah Al-Azhariyyah, 1970).

Thayib Anshari dkk, HAM dan Pluralisme Agama, (Surabaya: Pusat Kajian Strategi dan Kebijakan, 1997).

Tim Penulis Paramadina, Fiqh Lintas Agama (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 2004).

Downloads

Published

2026-06-10

How to Cite

Mohamad Kholil, Rifqi, R., & Fasjud Syukroni. (2026). Islamic Studies from a Sociological Approach: A Study of Muslim and Non-Muslim Interactions. Lentera Peradaban: Journal on Islamic Studies, 2(2), 121–136. https://doi.org/10.61166/lpi.v2i2.182

Issue

Section

Articles

Similar Articles

1 2 3 4 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.